Cari
  • THINKER Indonesia

TEPELAJAR (Telepon Pengetahuan Pintar untuk Belajar)

Diperbarui: Jan 19

TEPELAJAR (Telepon Pengetahuan Pintar untuk Belajar) : Inovasi Smartphone Berbasis Edukasi sebagai Program Pra-Pendidikan di Daerah 3T untuk Mewujudkan Pemerataan Pendidikan di Indonesia oleh Juligo Al Paraby Saragih

LATAR BELAKANG


Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah proses penunjang kekuatan kodrat sebagai manusia yang memiliki akal, dalam menguasai pengetahuan dengan tujuan manusia dapat meninggikan derajatnya. Dari pendapat Bapak Pendidikan Nasional tersebut, tersirat bahwa pendidikan menjadi kebutuhan yang sangat penting dan vital perannya bagi setiap manusia. Hal ini karena sasarannya adalah pengembangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan juga menjadi tolak ukur kesejahteraan dan kemajuan suatu bangsa. Semakin tinggi kualitas pendidikan di suatu negara, maka semakin tinggi pula tingkat kesejahteraan masyarakat di negara tersebut.


Tetapi, kualitas pendidikan Indonesia saat ini sangat memilukan. Hal ini dapat dilihat dari indikator Human Development Index (HDI) yang dikeluarkan United Nations Development Programme (UNDP). Human Development Index (HDI) merupakan ukuran ringkasan untuk menilai kemajuan jangka panjang dalam tiga dimensi dasar pembangunan manusia, antara lain harapan hidup dan kesehatan, akses terhadap pengetahuan atau pendidikan dan standar hidup yang layak. Pada tahun 2018, Indonesia menduduki peringkat ke-116 dari 189 negara (UNDP, 2018). Peringkat ini menunjukkan bahwa kualitas manusia Indonesia masih cukup rendah. Bahkan, Indonesia mengalami penurunan peringkat dalam 13 tahun terakhir, yakni peringkat ke-107 pada tahun 2005, peringkat ke-111 pada tahun 2010, dan peringkat ke-113 pada tahun 2015.


Rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia tidak terlepas dari banyaknya permasalahan kompleks yang melanda. Salah satunya adalah kurangnya pemerataan pendidikan di seluruh Indonesia. Sejatinya, sistem pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya bagi seluruh warga Indonesia untuk memperoleh pendidikan. Tetapi, keadaan itu tidak terealisasikan hingga saat ini.


Penyebab utama dari kurangnya pemerataan pendidikan adalah kondisi geografis Indonesia. Kondisi geografis Indonesia yang berupa negara kepulauan dan wilayah yang luas membuat pendidikan sulit tersebar merata. Sejatinya, luas suatu pulau sebanding dengan kepadatan populasinya. Tetapi, karena Indonesia lebih memusatkan seluruh kegiatan seperti pemerintahan, ekonomi, dan teknologi di satu pulau saja (Pulau Jawa), hal ini membuat pulau-pulau besar lainnya seakan-akan ‘dianaktirikan’. Pemusatan ini juga terjadi pada pendidikan. Kepadatan penduduk yang rendah di pulau lainnya membuat pemerintah tidak terlalu fokus dalam mendirikan sekolah-sekolah yang memiliki fasilitas memadai disana. Selain itu, perguruan tinggi berkualitas juga lebih banyak terdapat di Pulau Jawa dibandingkan dengan pulau besar lainnya.


Hingga tahun 2018, Indonesia masih memiliki sekitar 122 kabupaten yang tergolong daerah 3T (Terpencil, Terluar, Tertinggal). Daerah 3T ini tersebar di 23 provinsi di seluruh Indonesia (Perpres No.131 : 2015). Sebagian besar masyarakat yang tinggal di daerah tersebut tergolong miskin. Daerah 3T memiliki banyak kekurangan, seperti listrik, alat transportasi, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, air bersih, dan lainnya. Banyak masyarakat di daerah 3T khususnya anak usia sekolah yang tidak dapat ditampung dalam sistem pendidikan karena kurangnya fasilitas yang tersedia.


Dengan semakin berkembangnya era globalisasi, manusia sangat bergantung dengan teknologi yang mengalami kemajuan yang pesat. Bahkan, teknologi telah digunakan di semua aspek kegiatan manusia. Saat ini, teknologi juga sudah diimplementasikan di berbagai sektor pada bidang pendidikan, seperti penerapan CBT (Computer Based Test) pada pelaksanaan UN (Ujian Nasional) dan SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi), pembelajaran di kelas yang menggunakan powerpoint dan e-book, dan penggunaan internet sebagai pelengkap informasi ilmu pengetahuan. Bahkan, saat ini sudah terdapat aplikasi online learning seperti Zenius Education dan Ruangguru.


Tetapi, mirisnya adalah sebagian besar pendidikan dengan teknologi hanya dimanfaatkan oleh anak usia sekolah yang tinggal di daerah dengan fasilitas yang memadai. Anak usia sekolah yang tinggal di daerah 3T belum dapat menikmati pendidikan yang layak, apalagi dengan implementasi teknologi didalamnya. Permasalahan ini disebabkan karena akses terhadap internet di Indonesia belum merata, sementara teknologi informasi identik dengan internet. Oleh sebab itu, diperlukan suatu inovasi teknologi yang tidak memerlukan akses internet untuk membantu masyarakat di daerah 3T dapat menikmati pendidikan yang layak dengan memanfaatkan teknologi.


Tujuan dari penulisan esai ini adalah untuk memberikan solusi yang efektif dengan memanfaatkan teknologi tanpa bergantung dengan internet untuk mewujudkan pemerataan pendidikan yang berkualitas di Indonesia, khususnya di daerah 3T (Terpencil, Terluar, Tertinggal) sehingga masyarakat dan anak usia sekolah di daerah tersebut dapat memperoleh pendidikan yang layak.


ISI


Gambaran Inovasi : TEPELAJAR

Dari pemaparan latar belakang yang telah dilakukan, penulis memiliki sebuah ide yang dapat menjadi solusi untuk mewujudkan pemerataan pendidikan di Indonesia. Solusi ini terinspirasi dari keinginan pemerintah Indonesia untuk mewujudkan seluruh masyarakat Indonesia dapat menikmati listrik (100% rasio elektrifikasi), yaitu mengadakan program pra-elektrifikasi dengan mendistribusikan suatu alat yang bernama LTSHE (Lampu Tenaga Surya Hemat Energi) ke berbagai daerah 3T di Indonesia (Kem. ESDM : 2017). Penulis memiliki ide bahwa hal tersebut juga dilakukan pada bidang pendidikan, yaitu dengan mengadakan program pra- pendidikan pada anak usia sekolah di berbagai daerah 3T di Indonesia. Program pra-pendidikan ini dapat diwujudkan dengan memfasilitasi sebuah peralatan berbasis edukasi kepada masyarakat untuk dapat memperoleh ilmu pengetahuan.


Untuk itu, muncullah suatu ide yang dapat memfasilitasi pra-pendidikan tersebut. Ide ini bernama TEPELAJAR (Telepon Pengetahuan Pintar untuk Belajar).

TEPELAJAR merupakan sebuah smartphone berbasis edukasi yang berisi berbagai konten materi pembelajaran, mulai dari pembelajaran untuk usia dini, SD, SMP, hingga SMA. Materi pembelajaran ini berupa aplikasi offline yang sudah terpasang pada TEPELAJAR sehingga tidak memerlukan koneksi internet untuk mengaksesnya.


TEPELAJAR disebarkan ke setiap rumah pada daerah 3T yang anggota keluarganya terdapat anak usia sekolah. TEPELAJAR nantinya diserahkan kepada orangtua dan menjadi tanggung jawab penuh orangtua di rumah masing-masing. Setelah itu, orangtualah yang mengajarkan anak-anaknya berbagai materi pembelajaran yang terdapat di TEPELAJAR. Sebelum disebarkan, pemerintah diharuskan untuk memberikan pengetahuan tambahan kepada orangtua terkait penggunaan smartphone yang mungkin masih terasa asing bagi mereka, seperti cara menghidupkan smartphone, cara menyentuh layar smartphone dengan baik, cara membuka konten TEPELAJAR, cara merawat smartphone agar tidak cepat rusak, cara mengisi ulang daya smartphone, dan lainnya. Hal ini berguna agar nantinya para orangtua lebih mudah untuk mengajarkan konten-konten pembelajaran ke anak-anaknya.


Berikut adalah alur singkat mengenai penggunaan TEPELAJAR sebagai program pra-pendidikan.

Penggunaan TEPELAJAR yang diberikan kepada setiap rumah tangga akan memudahkan penyampaian dan penyerapan pengetahuan bagi sang anak. Hal ini karena orangtua dan anak dapat mengatur waktu belajar secara fleksibel karena proses pembelajaran dilakukan di rumah masing-masing. Selain itu, proses pembelajaran orangtua-anak memberikan keleluasaan bagi anak untuk menjadi aktif (tidak terdapat rasa segan) karena yang mengajarkan adalah orangtua mereka sendiri.

Konten TEPELAJAR

Perlu diketahui bahwa TEPELAJAR bukan merupakan sebuah aplikasi, tetapi TEPELAJAR merupakan sebuah smartphone berbasis edukasi yang didalamnya terdiri dari berbagai aplikasi konten pembelajaran yang dapat diakses tanpa internet (offline). Saat ini, sudah banyak aplikasi pembelajaran berbasis offline buatan anak bangsa yang dapat digunakan. Aplikasi-aplikasi tersebut dapat dimanfaatkan menjadi konten pembelajaran anak usia sekolah. Dengan adanya konten pembelajaran ini akan memudahkan para orangtua untuk mengajari anak-anaknya secara efektif. Materi pembelajaran pada TEPELAJAR disesuaikan dengan tingkatan pendidikan, mulai dari pembelajaran untuk usia dini, SD, SMP, dan SMA.

Untuk pembelajaran bagi anak usia dini (usia kurang dari 5 tahun), terdapat berbagai aplikasi offline buatan anak bangasa yang dapat digunakan. Aplikasi- aplikasi tersebut adalah Belajar Alfabet, Coret : Belajar Menggambar Anak, Puzzle, Mewarnai, Belajar Bentuk, Belajar Berhitung, Mengaji, dan Dongeng. Penggunaan berbagai aplikasi tersebut dapat menunjang pertumbuhan aktif otak anak usia dini.


Untuk pembelajaran bagi anak SD (usia 6-11 tahun), SMP (usia 12-15 tahun), dan SMA (usia 15-18 tahun), dapat digunakan aplikasi offline yang didalamnya terdapat materi pembelajaran yang biasanya dipelajari oleh sekolah-sekolah pada umumnya. Hal ini berguna agar anak usia sekolah pada daerah 3T tetap mendapatkan ilmu pengetahuan yang setara dengan anak usia sekolah pada daerah berkembang dan perkotaan. Pemerintah dapat bekerjasama dengan startup pendidikan buatan anak bangsa seperti Ruangguru, Zenius Education, dan PesonaEdu untuk membuat aplikasi offline yang menunjang pembelajaran anak SD, SMP, dan SMA. Aplikasi penunjang pembelajaran ini berupa aplikasi buku pelajaran digital yang mudah dipahami, aplikasi video pembelajaran interaktif, dan aplikasi soal-soal latihan.


Khusus untuk aplikasi video pembelajaran akan dikemas seinteraktif mungkin. Hal ini sangat penting karena belajar menggunakan video lebih efektif dalam menjelaskan suatu informasi yang bersifat kompleks dalam waktu singkat. Pembelajaran dengan video juga didukung dengan gambar dan desain grafis (minim teks) sehingga lebih mudah dimengerti. Selain itu, metode pembelajaran ini juga menumbuhkan pengalaman belajar yang baru bagi anak usia sekolah pada daerah 3T.

Potensi Inovasi

Dalam mengimplementasikan TEPELAJAR menjadi program pra-pendidikan, tentu terdapat berbagai kendala yang mungkin terjadi. Kendala utama yang terjadi adalah belum tersedianya listrik pada pada daerah 3T. Hal ini tentu menimbulkan masalah pada TEPELAJAR karena tidak dapat diisi ulang jika tidak terdapat listrik. Tetapi, kendala utama ini dapat diatasi dengan penggunaan LTSHE (Lampu Tenaga Surya Hemat Energi) yang sudah didistribusikan pemerintah di berbagai daerah 3T di Indonesia. Sistem LTSHE terdiri dari panel surya, baterai, lampu LED, dan port USB. Dengan adanya port USB pada sistem LTSHE, maka daya listrik TEPELAJAR dapat diisi ulang sehingga dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran secara kontinu. Berikut adalah konfigurasi LTSHE beserta TEPELAJAR yang disambungkan dengan port USB.

Dari segi ekonomi atau investasi, implementasi TEPELAJAR di seluruh daerah 3T di Indonesia sangat memungkinkan. Untuk mengetahui hal tersebut, dilakukan kalkulasi harga TEPELAJAR dan total rumah di seluruh daerah 3T di Indonesia yang membutuhkan. Smartphone yang memenuhi spesifikasi untuk dapat menyimpan dan menggunakan berbagai konten pembelajaran, mulai dari buku digital hingga video pembelajaran berkisar memiliki RAM sebesar 2 GB dan Memori Internal sebesar 32 GB. Terdapat berbagai smartphone yang memenuhi spesifikasi tersebut, seperti Samsung Galaxy A10, Xiaomi Redmi 7A, Realme C2, dan Oppo A1k. Harga setiap smartphone tersebut rata-rata berkisar Rp1.300.000,00. Untuk pemasangan aplikasi yang berisi konten pembelajaran dikenakan biaya sekitar Rp150.000,00 (adanya pembiayaan pada pemasangan aplikasi ini sebagai wujud dukungan pemerintah terhadap produk buatan anak bangsa). Sementara, daerah 3T di Indonesia yang belum mendapatkan fasilitas pendidikan yang layak berjumlah 122 kabupaten. Jumlah rumah tangga yang memiliki anggota keluarga berupa anak usia sekolah pada daerah tersebut mencapai 2,4 juta rumah tangga. Maka, total biaya yang dibutuhkan untuk merealisasikan program pra-pendidikan ini adalah sebagai berikut.

Total biaya :

= (Harga setiap smartphone + Biaya pemasangan aplikasi) x Jumlah rumah tangga

= (Rp1.300.000 + 150.000) x 2.400.000 = Rp3.480.000.000.000

= Rp3,48 triliun


Berdasarkan APBN Tahun Anggaran 2020, disebutkan bahwa anggaran pendidikan pada tahun 2020 sebesar Rp505,8 triliun (Kemenkeu, 2019). Jika dibandingkan dengan nilai tersebut, terlihat bahwa implementasi pra-pendidikan dengan menggunakan TEPELAJAR hanya menggunakan sebagian kecil anggaran pendidikan, yaitu hanya sekitar 0,688% dari total anggaran pendidikan tahun 2020. Hal ini menunjukkan bahwa inovasi ini sangat memungkinkan dari segi ekonomi.


Inovasi ini juga memiliki keunggulan lain dari segi ‘mencintai produk dalam negeri’. Penyedia aplikasi media pembelajaran berupa startup pendidikan karya anak bangsa menjadi lebih dikenal oleh masyarakat Indonesia karena produknya dipasang pada banyak TEPELAJAR (lebih dari 2 juta rumah tangga). Selain itu, dengan adanya pembiayaan pada pemasangan aplikasi juga menjadi wujud dukungan pemerintah dalam mengapresiasi karya anak bangsa.


PENUTUP


Pendidikan adalah hal yang sangat penting untuk kemajuan suatu bangsa. Semakin baik kualitas pendidikan suatu bangsa, maka semakin tinggi tingkat kesejahteraan bangsa tersebut. Tetapi, kualitas pendidikan di Indonesia bisa dikatakan masih rendah. Kurangnya pemerataan pendidikan di seluruh Indonesia menjadi salah satu penyebab hal tersebut. Penggunaan TEPELAJAR dapat menjadi solusi dalam pemerataan pendidikan di Indonesia, khususnya di daerah 3T.


TEPELAJAR memiliki keunggulan karena tidak memerlukan koneksi internet dalam penggunaannya. TEPELAJAR juga memiliki berbagai konten media pembelajaran yang lengkap untuk memfasilitasi pengetahuan dan pendidikan para anak usia sekolah. TEPELAJAR sangat memungkinkan untuk diimplementasikan di daerah 3T karena penggunaannya yang didukung oleh program pra-elektrifikasi (sistem LTSHE) sehingga daya listriknya dapat diisi ulang.


Inovasi ini merupakan salah satu upaya penulis dalam menyalurkan ide-ide kreatif dan berusaha membuat perubahan bagi Indonesia. Penggunaan TEPELAJAR dapat menghasilkan pemerataan pendidikan di Indonesia yang membuat kualitas pendidikan Indonesia semakin baik sehingga berujung pada peningkatan kesejahteraan bangsa Indonesia.


Lebih lengkapnya silahkan baca dalam bentuk PDF di: http://bit.ly/Juara1EsaiTHINKER

202 tampilan

Postingan Terakhir

Lihat Semua

© 2019 by THINKER.ID

  • Facebook
  • Black Instagram Icon
  • line-me