Cari
  • THINKER Indonesia

Program Satu Murid Satu Tablet Berbasis Sistem Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh (PTJJ)

Diperbarui: Jan 19

Program Satu Murid Satu Tablet Berbasis Sistem Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh (PTJJ) oleh Fira Felia


Latar Belakang


Ketimpangan pendidikan antara perdesaan dan perkotaan maupun yang kaya dan yang kurang mampu di Indonesia masih menjadi permasalahan yang pelik. Lebih lanjut, UNICEF menyatakan pada tahun 2015 hampir setengah anggaran pendidikan hanya dinikmati sekitar 10% penduduk di Indonesia. Kemudian sekitar 20% siswa kaya menerima 18 kali lebih banyak fasilitas dari pada 20% siswa miskin (Liauw, 2015). Permasalahan ketimpangan pendidikan ini salah satunya berakar pada kurangnya akses kependidikan, khususnya di pedesaan. Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 72 pasal 8 ayat 3 tahun 2013 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Layanan Khusus, yaitu pendidikan bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, masyarakat adat yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi, solusi dari permasalahan ini adalah melalui sistem pendidikan berbasis teknologi, atau dalam esai ini, solusinya adalah penggunaan tablet berbasis sistem Pendidikan Terbuka dan Jarak jauh (PTJJ).


Program Satu Murid Satu Tablet


Ketimpangan pendidikan tidak hanya terjadi di Indonesia, negara seperti Kenya, Brazil, dan Kolombia juga memiliki permasalahan serupa, ketimpangan pendidikan yang cukup ekstrim terjadi antara kalangan menengah ke atas dengan kalangan bawah di negara-negara tersebut (Trucano, 2015). Sehingga pemerintah negara-negara ini menggunakan tablet sebagai solusi untuk pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan. Berdasarkan penelitian di Universitas Malaya (Ghavifekr & Wan Athirah Wan, 2015), penggunaan tablet dalam kegiatan belajar mengajar berhasil meningkatkan kualitas pembelajaran di ruang kelas. Keberhasilan penggunaan tablet dalam pembelajaran juga bergantung kepada peran guru dalam mengintegrasikan tablet dalam kegiatan belajar mengajar (Hennessy, 2010). Agaknya Indonesia bisa mencontoh Kenya, Brazil, dan Kolombia menggunakan tablet sebagai solusi ketimpangan pendidikan.

Program Satu Murid Satu Tablet adalah program dimana pemerintah memfasilitasi pelajar dengan satu tablet khusus yang akan digunakan dalam kegiatan belajar. Pelajar yang berhak untuk mendapat tablet adalah pelajar yang berdomisili di daerah tertinggal dan kurang mampu secara finansial sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 72 pasal 8 ayat 3 tahun 2013 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Layanan Khusus. Tablet akan diberikan setelah pelajar berhasil terdaftar secara resmi di sekolah atau setelah pelajar mendapat Nomor Induk Siswa Nasional (NISN) dari Kemdikbud.


Tablet yang akan digunakan dalam pembelajaran tentunya harus dimodifikasi agar penggunaan tablet lebih efektif. Di antara fitur dan modifikasi dari tablet ini adalah: (1) Shockproof dan waterproof agar tablet tidak mudah rusak, (2) Menggunakan sistem operasi open source seperti linux sehingga mudah unttuk memperbaharui konten dan dapat mengurangi biaya produksi.


Penggunaan tablet dalam proses pembelajaran tentunya memiliki beberapa kelebihan dibandingkan gawai lainnya, antara lain:


  1. Mudah digunakan Bentuk fisik tablet yang lebih kecil daripada laptop dan komputer membuatnya lebih mudah digunakan dimana saja.

  2. Lebih murahDitinjau dari perspektif jangka panjang, tablet lebih cost-effective dibandingkan dengan buku paket, karena ribuan macam buku paket bisa dimuat di dalam satu tablet.

  3. Tablet memiliki berbagai fitur yang tidak ditemukan di buku paket. Seperti fitur built-in dictionary, diagram, dan video yang interaktif.

  4. Tablet membantu pelajar siswa untuk siap mengikuti arus perkembangan teknologi. Penggunaan tablet sebagai proses pembelajaran sehari-hari tentunya meningkatkan kemampuan dan kesiapan siswa ketika nanti lulus dan dihadapkan dengan perkembangan teknologi yang pesat di dunia kerja.

  5. Pembelajaran lebih intuitif. Para siswa SD di Ethiopia mendapat tablet yang berisi aplikasi edukasional berhasil menggunakan 47 jenis aplikasi dalam sehari, dalam dua minggu, mereka bisa menyanyikan lagu ABC. Dan dalam lima bulan, mereka berhasil meretas sistem operasi dari tablet tersebut dan mengubah pengaturan dekstop. Semua itu dilakukan tanpa instruksi atau pelatihan mengenai tablet sebelumnya (Talbot, 2012).

Sistem Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh

Dewasa ini, pesatnya perkembangan teknologi informasi di Indonesia tidak bisa lagi dihindari. Perkembangan teknologi pun turut memengaruhi berbagai aspek di kehidupan, salah satunya di bidang pendidikan. Pengaruh teknologi tidak hanya sebatas pada ruang kelas, tetapi juga perubahan sistem pendidikan, salah satunya adalah sistem Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh (PTJJ). Sistem Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh (PTJJ) adalah sistem pendidikan yang dilakukan secara mandiri melalui pembelajaran dengan kecepatan belajar masing- masing via modul, video, dan sebagainya sehingga tatap muka antara guru dan murid tidak sebanyak sistem pembelajaran konvensional. Sistem pendidikan ini diadakan karena adanya keterbatasan lembaga pendidikan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat akan layanan pendidikan (Siahaan & Rivalina, 2012).


Sistem PTJJ memiliki beberapa keunggulan sehingga tepat sebagai solusi untuk menyelesaikan ketimpangan pendidikan, diantanya adalah

  1. Sistem pendidikan yang memiliki jangkauan yang luas sehingga terwujudnya pemerataan akses pendidikan. Jadi, sistem PTJJ tidak mengenal batas geografi, demografi, kemampuan sosial ekonomi, budaya.

  2. Sistem PTJJ dapat mewujudkan pemerataan kualitas pendidikan. Sehingga semua pelajar dapat menempuh pendidikan dengan kualitas yang sama.

Akan tetapi, terdapat beberapa kendala dalam penggunaan tablet dalam

pendidikan berbasis PTJJ, diantaranya yang pertama adalah apabila tablet diberikan kepada jutaan jumlah pelajar di Indonesia yang membutuhkan tentunya akan memakan biaya yang cukup mahal. Dan yang kedua, 60% guru-guru di Indonesia yang masih gagap teknologi berdasarkan survey Pustekkom (Maharani, 2018), Dan yang terakhir adalah internet yang masih berbayar di Indonesia.


Untuk masalah biaya produksi tablet, pemerintah bisa menjalin kerjasama dengan perusahaan swasta dalam negeri atau Kemitraan Pemerintah Swasta (KMS) (Supancana, 2015). Kemitraan Pemerintah Swasta adalah perjanjian kontrak kerjasama antara swasta dan pemerintah untuk menggunakan keahlian dan kemampuan masing-masing dimana kerjasama bertujuan untuk menyediakan kualitas pelayanan publik dengan biaya yang optimal. Sehingga melalui KMS, biaya produksi tablet bisa lebih ekonomis.


Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, peran guru dalam keberhasilan sistem PTJJ dengan media tablet sangat integral. Untuk meningkatkan kompetensi guru agar tablet dapat efektif digunakan dalam proses pembelajaran diperlukannya pelatihan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) oleh pemerintah. Materi pelatihan terdiri dari pelatihan TIK, seperti penggunaan perangkat lunak dasar seperti Microsoft Word, Microsoft PowerPoint, dan sebagainya, serta pelatihan penerapan TIK dalam pendagogi. Lebih lanjut, teknologi akan senantiasa berkembang setiap saat. Oleh karena itu pelatihan TIK ini diadakan secara periodik.


Adapun akses internet di Indonesia yang masih berbayar juga menjadi masalah dalam penerapan program satu murid satu tablet berbasis PTJJ di Indonesia. Maka solusinya adalah kerjasama pemerintah dengan provider-provider layanan intenet di Indonesia dengan cara penggratisan akses website resmi PTJJ. Sehingga murid tidak usah membeli paket internet. Pemerintah juga sudah menyediakan kartu SIM dari provider yang sebelumnya sudah bekerjasama dengan pemerintah di dalam tablet tersebut.


Kesimpulan


Tidak dapat dipungkiri ketimpangan pendidik di Indonesia yang disebabkan oleh kurangnya akses pendidikan merupakan permasalahan yang perlu diselesaikan. Program Satu Murid Satu Tablet adalah program dimana pemerintah memberikan tablet kepada pelajar yang kurang mampu dan bertempat di daerah tertinggal. Tablet yang sudah dimodifikasi semikian rupa tersebut akan terhubung ke sistem Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh (PTJJ). Sehingga pelajar dapat mengakses konten pembelajaran kapan saja dan dimana saja. Oleh sebab itu, program Satu Murid Satu Tablet berbasis sistem PTJJ adalah solusi terbaik untuk menyelesaikan problem ketimpangan pendidikan di Indonesia.


Lebih lengkapnya silahkan baca dalam bentuk PDF di: http://bit.ly/Juara2EsaiTHINKER

78 tampilan

Postingan Terakhir

Lihat Semua

© 2019 by THINKER.ID

  • Facebook
  • Black Instagram Icon
  • line-me