Cari
  • THINKER Indonesia

Potret Pendidikan Indonesia

Tulisan ini adalah sebuah catatan perlawanan tentang pendidikan kita yang kian terlupa. Catatan yang berasal dari seorang mahasiswa dan ditujukan untuk seluruh mahasiswa lainnya di Indonesia.


Non scholae, sed vitae discimus

Kita belajar bukan untuk sekolah, melainkan untuk hidup. Begitulah kurang lebih arti dari pepatah latin diatas. Non scholae, sed vitae discimus pertama kali diucapkan oleh Seneca, seorang filsuf Romawi, dalam suratnya kepada Lucius untuk mengkritik sekolah-sekolah filsafat pada masanya di abad I. Nyatanya pepatah tersebut masih cukup relevan untuk mengkritik sekolah, pendidikan tinggi, dan para pelajar kita di abad XXI yang masih sering mengalami disorientasi dari tujuan pendidikan itu sendiri. Tujuan utama dari pendidikan adalah seseorang bisa hidup dengan baik, atau bisa menjadi warga negara baik yang siap mewujudkan reformasi tatanan sosial.


Sebagai bagian dari pelajar dengan gelar 'mahasiswa', tentu kita harus memaknai arti pepatah dan tujuan tersebut lebih dalam. Kita telah berada di babak baru dalam dunia pembelajaran, dengan gelar 'maha' atas kesiswaan kita. Mungkin sebagian menganggap pemberian gelar 'maha' serta tingkatan baru dalam dunia pendidikan ini biasa saja dan dijalani selayaknya masa yang sudah-sudah. Namun mari sejenak melihat realita melalui data.

Sumber: BPS - Susenas KOR 2016

Salah satu poin dalam publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) terkait potret pendidikan Indonesia adalah temuan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin besar pula angka putus sekolah. Pada tahun 2016, tidak sampai satu dari 100 anak SD putus sekolah. Namun ketika sampai pada jenjang SM / sederajat angkanya menjadi satu dari 20 anak yang putus sekolah. Padahal target angka putus sekolah yang diharapkan pemerintah saat ini adalah berkisar satu persen pada tiap jenjang.

Akan semakin miris ketika kita berbicara persentase yang melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Melalui sumber publikasi yang sama didapatkan fakta bahwa hanya sekitar delapan persen penduduk usia 15 tahun ke atas yang lulus Perguruan Tinggi. Apakah ini kegagalan pemerintah? Bukan!

Kali ini kita tidak sedang melakukan evaluasi kinerja pemerintah. Sudut pandang yang ingin saya angkat adalah bahwa di negara kita ada jutaan anak yang masuk dan lulus SD setiap tahunnya, tetapi hanya ratusan ribu yang masuk dan lulus Perguruan Tinggi, termasuk kita. Oleh karena itulah kita diberi gelar ‘maha’, kita berbeda, dan bukan sesuatu yang mengherankan apabila mahasiswa sering dipandang sebagai kekuatan moral maupun agen perubahan dalam kehidupan bermasyarakat. Kita adalah peraih kesempatan untuk maju dan mengembangkan diri di Perguruan Tinggi, bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk kemajuan bangsa.

Apabila berkaca pada sejarah, selain belajar sejatinya tugas tambahan bagi mahasiswa adalah melawan. Melawan berbagai bentuk kezaliman baik berlandaskan moral maupun intelektual. Perkembangan bangsa mungkin tidak akan mencapai titik yang sekarang kita rasakan apabila mahasiswa di tahun 1966, 1974, hingga 1998 menyamakan perannya dengan pelajar sekolah dan mendiamkan berbagai hal yang tidak beres di masa-masa tersebut. Lalu, apakah keadaan sekarang segawat itu untuk kita melawan?

Kawan, perlawanan itu akan selalu ada beriringan dengan kezaliman dan keadaan yang tidak beres lainnya. Perlawanan tidak selalu untuk menyerang atau menyalahkan. Contohnya di masa sekarang, kita perlu melakukan perlawanan terhadap tingginya angka putus sekolah di jenjang yang makin tinggi, perlawanan terhadap belum tercapainya target Angka Melek Huruf (AMH) pada penduduk usia 15 tahun ke atas, perlawanan terhadap kualitas pendidikan Indonesia yang masih berada di peringkat 69 dari 76 negara, perlawanan terhadap korupsi di sektor pendidikan yang hingga 2015 mencapai lebih dari 1,3 triliun rupiah, dan terakhir serta yang paling penting ialah perlawanan terhadap pesimisme dan apatisme yang bersarang di dalam diri kita.

Seperti yang telah diceritakan pada bagian pembuka, non scholae, sed vitae discimus. Pada posisi ini, sebagai mahasiswa, kita mendapat tanggung jawab moral menjadi agen perubahan. Membawa ilmu dan cara berpikir kita tidak sebatas di ruang kelas tetapi juga keluar. Pendidikan dan permasalahannya adalah isu yang dekat dengan kita dan bisa dimasuki oleh mahasiswa manapun dari jurusan apapun. Penting juga untuk menumbuhkan kesadaran bahwa pendidikan adalah pilar utama bagi kemajuan bangsa. Toh sejatinya setiap tempat adalah sekolah dan setiap orang adalah guru.

Pilihan kita sekarang antara peduli atau tidak, akan menentukan kondisi Indonesia 10 atau 20 tahun mendatang. Catatan perlawanan ini diharapkan menjadi salah satu tulisan pembuka mata terkait realita pendidikan Indonesia dan bagaimana peran kita sebagai insan intelektual. Juga diharapkan dapat menjadi penyulut teman – teman di luar sana untuk tidak sekedar menuntut perubahan, tetapi bersiap melawan dengan menciptakan perubahan. Sebagai penutup, ada sedikit pesan dari Rendra melalui puisinya, Sajak Seonggok Jagung:


Aku bertanya

Apakah gunanya pendidikan

Bila hanya membuat seseorang menjadi asing

Di tengah kenyataan persoalannya?

Apakah gunanya pendidikan

Bila hanya mendorong seseorang

Menjadi layang – layang ibu kota

Kikuk pulang ke daerahnya?

Apakah gunanya seseorang

Belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran

Atau apa saja

Bila pada akhirnya

Ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata

 “Di sini aku merasa asing dan sepi”


Keterangan:

1. Tulisan ini ditulis pada Hari Pendidikan Nasional 2017.

2. Untuk teman-teman yang ingin mengunduh data pendidikan dari BPS terbaru dapat klik tautan berikut: unduh

3. Hasil tahun 2016 dan 2017 tidak jauh berbeda.

148 tampilan

Postingan Terakhir

Lihat Semua

© 2019 by THINKER.ID

  • Facebook
  • Black Instagram Icon
  • line-me