Cari
  • THINKER Indonesia

BELIBIS (Bimbingan Belajar SBMPTN Gratis): Solusi Pemerataan Pendidikan Tinggi

Tulisan ini adalah potongan (bukan versi lengkap) dari karya esai seorang mahasiswa yang memenangkan salah satu perlombaan esai nasional yang diselenggarakan oleh salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia.


Pendidikan merupakan senjata paling ampuh yang bisa kamu gunakan untuk mengubah dunia

Adalah merupakan perkataan dari revolusionaris terkenal dunia yang bernama Nelson Mandela. Pendidikan memang bisa diibaratkan layaknya senjata yang dibutuhkan dalam berperang dan bertahan hidup. Dalam sebuah peperangan, seseorang tanpa senjata jelas akan kalah dihabisi oleh lawannya yang bersenjata, pun di dunia nyata, seseorang tanpa pendidikan akan kalah dengan orang lain yang lebih berpendidikan.


Pendidikan, selain menjadi senjata seperti yang dikatakan Mandela, juga menjadi tujuan keempat dari Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang merupakan agenda dunia pembangunan untuk kemaslahatan manusia dan planet bumi yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). SDGs poin keempat yang berbunyi “Menjamin pendidikan yang inklusif dan berkeadilan serta mendorong kesempatan belajar seumur hidup bagi semua orang” merupakan salah satu landasan dalam esai ini. Penulis merasa bahwa melalui solusi yang ditawarkan penulis dalam esai ini, maka sedikit banyak akan berkontribusi terhadap keberlangsungan SDGs poin keempat di Indonesia.


Pendidikan di Indonesia, terutama pendidikan tinggi, belum dapat dikatakan cukup kompetitif di dunia internasional. Bila dilihat dari QS Higher Education System Strength Rankings pada tahun 2016, yaitu suatu penilaian terhadap keseluruhan kekuatan sistem dan kinerja universitas (di dalamnya termasuk faktor-faktor terkait akses dan pendanaan), Indonesia berada pada peringkat 42 dari total 50 negara yang dinilai di seluruh dunia. Hal ini berarti peringkat kekuatan pendidikan tinggi Indonesia termasuk 10 terbawah di dunia. Hal ini sangat disayangkan, sebab sejak tahun 2012 Indonesia telah memasuki era bonus demografi.


Era bonus demografi berarti struktur penduduk Indonesia didominasi penduduk usia produktif, kondisi ini merupakan kondisi yang langka dan menguntungkan, sebab jumlah penduduk usia produktif yang dapat bekerja sangat besar jika dibandingkan dengan penduduk usia nonproduktif yang menjadi tanggungannya. Keadaan ini dapat menjadi modal pembangunan nasional (seperti dikutip dari Puspawarna Pendidikan Tinggi Indonesia, Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, 2016). Namun, jika era bonus demografi ini tidak didukung oleh kualitas yang memadai dari pada penduduk usia produktif tersebut, maka “modal” tersebut akan sia-sia, pembangunan nasional akan sulit dicapai.


Kita semua tahu bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, akan semakin tinggi pula kualitas sumber daya manusianya. Untuk itu, kesempatan untuk memperoleh pendidikan, terutama pendidikan tinggi, yang merata bagi seluruh rakyat merupakan salah satu kunci dari segala permasalahan terkait pendidikan ini. Namun sayangnya, di Indonesia, jumlah partisipan dalam setiap jenjang pendidikan tidaklah merata. Semakin tinggi jenjang pendidikan, akan semakin sedikit jumlah partisipannya. Tidak hanya itu, pengaruh tempat tinggal, latar belakang status ekonomi keluarga, dan jenis kelamin juga masih merupakan salah satu indikator penentu dalam tingkat pendidikan.


Oleh karena itu, terdapat dua hal yang menjadi masalah utama yang akan berusaha diberi solusinya oleh penulis pada esai ini, masalah tersebut adalah rendahnya Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi di Indonesia (jika dibandingkan dengan APK SD/Sederajat, SMP/Sederajat, dan SMA/Sederajat), terutama APK siswa-siswi kurang mampu (yang berasal dari rumah tangga dengan status ekonomi rendah yaitu kuintil satu dan kuintil dua). Masalah tersebut telah dibuktikan dengan data-data, sehingga merupakan masalah yang nyata dan sedang dihadapi oleh Indonesia saat ini. Masalah tersebut bisa saja merupakan salah satu sumber dari rendahnya ranking kompetitif perguruan tinggi Indonesia jika dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia, berdasarkan The Global Competitiveness Index Report, negara kita turun lima peringkat dari peringkat 37 pada periode 2015-2016 lalu.


Alasan di balik masalah rendahnya APK perguruan tinggi terutama dari siswa-siswi kurang mampu dari segi ekonomi, menurut penulis, selain karena pengaruh lingkungan sekitarnya yang kurang kompetitif adalah disebabkan oleh rendahnya motivasi dari dalam maupun luar diri siswa-siswi yang berasal dari rumah tangga berekonomi rendah untuk melanjutkan pendidikan hingga ke tingkat tinggi. Selain itu, alasan lainnya adalah disebabkan kurangnya persiapan yang matang dari siswa-siswi kurang mampu dalam menghadapi tes Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) maupun Tes Mandiri setara SBMPTN seperti Seleksi Masuk Universitas Indonesia (SIMAK UI) dan Ujian Tulis Universitas Gadjah Mada (UTUL UGM) yang tergolong sulit jika dibandingkan dengan soal-soal Ujian Nasional atau Ujian Sekolah. Kurangnya persiapan ini adalah alasan utama di balik rendahnya APK perguruan tinggi dari siswa-siswi kurang mampu.


Penulis berpendapat bahwa terdapat dua solusi utama yang dapat diaplikasikan dalam rangka mengurangi masalah rendahnya APK perguruan tinggi bagi siswa siswi kurang mampu secara ekonomi tersebut adalah dengan mengadakan program yang diberi nama BELIBIS atau Bimbingan Belajar SBMPTN Gratis. Program BELIBIS yang merupakan solusi yang ditawarkan penulis dalam rangka menyelesaikan permasalahan yang telah disebutkan sebelumnya, terdiri atas dua sub-program:

  1. Memberi motivasi serta informasi seputar dunia perkuliahan yang dinamakan oleh penulis dengan nama MOTIF (singkatan dari Motivasi & Informasi).

  2. Mengedukasi siswa siswi kurang mampu melalui program intensif semacam program bimbingan belajar komersil (seperti Inten, Ganesha Operation, atau Primagama) namun gratis, yang diberi nama oleh penulis yaitu PADI (singkatan dari Pembahasan, Latihan Soal, dan Diskusi) khusus soal soal SBMPTN dan/atau Tes Mandiri Universitas setara SBMPTN.

Penulis membayangkan program BELIBIS (Bimbingan Belajar SBMPTN Gratis) dapat direalisasikan di seluruh kampus di berbagai kota di Indonesia. Harapan penulis, BEM dari kampus-kampus di seluruh Indonesia dapat melakukan kerjasama dengan SMA-SMA di daerah sekitarnya untuk mengadakan program bimbingan belajar intensif SBMPTN gratis serta mengedukasi anak-anak SMA yang kurang teredukasi mengenai hal-hal seputar SBMPTN dan perkuliahan agar mereka lebih siap dalam mengenyam pendidikan tinggi.


Penulis merasa sebenarnya banyak mahasiswa di Indonesia yang memiliki tingkat kepedulian yang tinggi terhadap pendidikan di Indonesia, namun yang mereka butuhkan hanyalah wadah untuk menyalurkan kepedulian tersebut. Untuk itu, penulis berharap program BELIBIS yang terdiri atas sub-program MOTIF (Motivasi dan Informasi) dan PADI (Pembahasan, Latihan Soal, dan Diskusi) soal SBMPTN ini dapat benar terwujud. Jika benar terwujud dan diaplikasikan oleh mahasiswa-mahasiswa di seluruh Indonesia, harapan penulis, program ini akan dapat membantu menyelesaikan salah satu permasalahan SDGs poin keempat yang berkaitan dengan pendidikan yang inklusif. Dalam hal ini, SDGs point keempat dispesifikkan ke pendidikan tinggi yang merata dan dapat dinikmati oleh pelajar di seluruh Indonesia, terlepas dari jenis kelaminnya, latar belakang ekonomi keluarganya, maupun daerah tempat tinggalnya.

149 tampilan

Postingan Terakhir

Lihat Semua

© 2019 by THINKER.ID

  • Facebook
  • Black Instagram Icon
  • line-me